Presiden Prabowo Subianto menghadapi tekanan politik berlapis, mencakup tantangan ekonomi global, pembenahan tata kelola institusi (seperti kasus di Badan Gizi Nasional), dan manuver politik koalisi yang dominan.
-----
Rabu, 10 Juni 2026
Prabowo Digoyang Oligarki Takut Anies Menang 2029
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Presiden Prabowo Subianto
menghadapi tekanan politik berlapis, mencakup tantangan ekonomi global,
pembenahan tata kelola institusi (seperti kasus di Badan Gizi Nasional), dan
manuver politik koalisi yang dominan. Beliau juga harus menyeimbangkan manuver pemberantasan
korupsi masif dengan potensi perlawanan internal, sambil menavigasi dinamika
dengan oposisi.
Pemerintahan Presiden
Prabowo Subianto menghadapi tekanan politik berlapis, mulai dari manuver
oposisi di dalam negeri hingga tantangan berat fiskal dan geopolitik global.
Stabilitas pemerintahannya ditopang oleh poros koalisi besar yang sekaligus
menuntut akomodasi politik internal.
Adapun rincian tekanan
politik yang dihadapi pemerintahan Prabiwo saat ini, antara lain:
a). Dilema Fiskal dan
Ekonomi: Gejolak global, seperti konflik di Timur Tengah, memicu tekanan pada
anggaran negara yang berimbas pada kebijakan sensitif seperti harga Bahan Bakar
Minyak (BBM). Menjaga daya beli masyarakat di tengah inflasi menjadi ujian
berat bagi kepemimpinannya.
b). Kritik Oposisi: Meski
didukung oleh koalisi kuat di parlemen, Presiden Prabowo menghadapi tekanan
kontrol dari partai oposisi seperti PDI-P. Kritik keras ini kerap menuntut
pemerintah lebih transparan dan akuntabel terhadap berbagai kebijakan
strategis.
c). Geopolitik
Internasional: Dalam politik luar negeri bebas aktif, Indonesia dituntut untuk
mengambil sikap tegas namun hati-hati di tengah persaingan blok kekuatan besar
dunia yang berpotensi menyeret stabilitas regional.
Dinamika dan tekanan
politik tersebut dapat dilihat pada aspek-aspek berikut:
1. Gesekan Politik Dan
Kepentingan.
Langkah gencar aparat
penegak hukum dan Kejaksaan Agung dalam membongkar kasus raksasa korupsi,
termasuk skandal yang menyeret mantan petinggi Badan Gizi Nasional (BGN), menciptakan
gesekan politik yang serius. Apalagi
Kabinet Prabowo didominasi dari geng Solo termasuk pengelola BGN diduga
titipan Presiden sebelumnya.
Presiden Prabowo Subianto
secara terbuka mengakui adanya perlawanan dan teror dari pihak-pihak yang kepentingannya
terganggu.
2. Tekanan global akibat
dinamika geopolitik.
Tekanan ini sangat
menguji kepemimpinan Prabowo, khususnya dalam dilema penetapan kebijakan
politik BBM dan pengelolaan anggaran di tengah tekanan fiskal.
3. Sabotase Struktural.
Sabotase struktural
adalah tindakan sengaja dan terencana untuk menghambat, melumpuhkan, atau
menggagalkan fungsi, sistem, maupun tujuan suatu organisasi atau pemerintahan
dari dalam. Berbeda dengan sabotase fisik, bentuk ini menyerang tatanan
prosedural, alur kerja, atau fondasi sistem agar kinerja target menjadi rusak.
Konteks dan ragam sabotase struktural dalam politik dan negara merujuk pada
upaya sistematis kelompok tertentu untuk melemahkan pemerintahan Prabowo,
mendestabilisasi institusi, atau menggagalkan kebijakan melalui pemanfaatan
celah sistem. Hal ini dapat berupa manuver birokrasi, penyusupan kebijakan,
hingga gerakan internal dalam kabinetnya. Secara konseptual, fenomena ini
sering dikaitkan dengan perusakan tidak kasatmata (subversif) yang memanfaatkan
struktur legal atau fungsional itu sendiri untuk menciptakan kekacauan atau
kerugian besar.
Menurut Gatot Nurmantyo,
Presiden Prabowo Subianto diduga mendapat tekanan politik untuk menerima
"titipan" dari Joko Widodo. Titipan ini bukan hanya terkait nama
menteri di kabinet, melainkan juga agenda politik agar pasangan Prabowo dan
Gibran Rakabuming Raka dipersiapkan untuk memimpin selama dua periode.
Dikutip dari-KOMPAS.com -
Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menilai berbagai persoalan yang
saat ini dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, adalah akumulasi
masalah yang diwariskan dari pemerintahan periode kedua Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Menurut Hasto, tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo saat ini tidak
muncul dalam waktu singkat, melainkan merupakan persoalan yang telah
berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Berbagai tantangan
ekonomi, fiskal, tata kelola pemerintahan, hingga persoalan sosial yang saat
ini dihadapi Presiden Prabowo merupakan persoalan yang sebagian besar merupakan
warisan dari pemerintahan Joko Widodo pada periode kedua,” kata Hasto kepada
wartawan, Senin (1/6/2026).
Hasto menyampaikan hal
tersebut saat menanggapi momen kebersamaan Prabowo dan Presiden ke-5 RI
sekaligus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Megawati Soekarnoputri, dalam peringatan
Hari Lahir Pancasila.
Analisis Hasto ini,
sejalan dengan prediksi seorang pengamat militer dan intelijen, bahwa Presiden
Prabowo Subianto hanya akan menjabat selama dua tahun seperti yang disampaikan
oleh Connie Rahakundini Bakrie pada masa kampanye Pilpres 2024.
Namun jika kita
perhatikan kondisi politik nasional saat ini, penulis melihat adanya
kekhawatiran dan ketakutan oligarki menjelang Pilpres 2029. Sebab dukhawatirkan
Prabowo-Gibran tidak bisa memenangkan konstelasi politik 2029 jika Anies
memiliki kendaraan politik. Karena dua naga sakti (JK-Amien Rais) diperkirakan
berada dibelakang ARB sebagai " King
Maker."
Sehingga ada upaya secara
masif dan sistematis untuk menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto dalam masa
jabatannya sebelum 2029. Hal ini dapat kita lihat dari sabotase struktural era
Menteri Keuangan sebelum Purbaya yang menjebak Prabowo melalui kebijakan
ekonomi sebelum pelantikan. Sasaran utamanya, adalah oligarki ingin "Raja Jawa
2", bertahta sebelum 2029.
Kondisi ini dapat dibaca
pada lahirnya gelombang demonstrasi dan kerusuhan massal pada akhir Agustus
2025 di Gedung DPR RI dan di berbagai daerah. Aksi tersebut meluas berskala
nasional dipicu oleh kemarahan masyarakat terhadap kebijakan negara, khususnya
terkait rencana tunjangan perumahan anggota DPR dan penolakan terhadap
undang-undang ketenagakerjaan.
Inilah upaya kudeta
sistematis yang gagal melalui aksi demontrasi
anarkis pada Agustus 2025 lalu, yang memanfaatkan influencer,
buzzer-buzzer bayaran, dan aparat negara sebagai buzer birokrasi. Dan secara
politis sepertinya oligarki akan memanfaatkan perampokan berkedok gizi untuk
menjatuhkan Presiden Prabowo demi menaikkan pewaris tahta "Raja
Jawa."
Makassar, 9 Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar