Sekaranglah saatnya masyarakat nusantara, untuk menggolarakan pemimpin paripurna, yaitu pemimpin yang berkarakter jujur, cerdas, dan berani tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras dan golongan. Karena karakter tersebut adalah nilai-nilai universal yang diajarkan oleh semua agama, sebelum kecurangan dan kebohongan menjadi character building dalam transaksi politik.
-----
Selasa, 11 Agustus 2026
Haluan Garuda Serong ke Kiri Butuh Kompas Jujur
Haluan kapal adalah
bagian depan dari badan kapal yang menghadap ke arah tujuan saat kapal sedang
berjalan. Bagian ini umumnya dirancang meruncing agar mampu membelah air dengan
mudah, mengurangi hambatan laju air, serta mencegah air laut masuk ke dalam kapal
akibat terjangan ombak. Dalam politik, haluan berarti arah, tujuan, pandangan,
atau pedoman dasar yang dipegang oleh suatu bangsa, partai, atau tokoh dalam
menjalankan kebijakan serta kegiatan politiknya. Sesuai penjelasan di Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ini mencakup orientasi ideologi dan
langkah strategis yang dituju. Sementara serong berarti tidak lurus, miring,
menyimpang dari arah atau garis lurus, mencong, serta bermakna kiasan “sebagai
perbuatan curang atau tidak setia”.Sedangkan kompas pada kapal atau
pesawat berfungsi sebagai alat navigasi utama untuk menentukan arah haluan,
menjaga jalur perjalanan tetap lurus di tengah laut atau udara tanpa rambu,
serta menjadi sistem cadangan darurat yang vital jika alat navigasi digital
atau satelit mengalami kerusakan. Demikian juga pentingnya haluan dan kompas
yang jujur bagi suatu bangsa, untuk menjamin kedaulatan negara dan pemerintahan
yang berdaulat.
Haluan bangsa dan negara
Indonesia secara fundamental berakar pada Pancasila sebagai ideologi dasar dan
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi. Dalam sejarah dan ketatanegaraan,
arah pembangunan nasional ini dikenal melalui konsep Garis-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN) atau yang kini tengah dimatangkan kembali oleh MPR RI sebagai
Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) untuk menjaga kesinambungan pembangunan jangka
panjang.
Saat ini negara Indonesia
sedang tidak baik-baik saja, karena haluan garuda sedang mengarah ke kiri,
dibelokkan karena kepentingan politik dan bisnis global yang telah
diperjanjikan diatas meja politik transaksional. Untuk itu haluan Garuda
Indonesia membutuhkan nakhoda yang memiliki kompas (integritas) kejujuran.
Yaitu: membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki sifat dan karakter paripurna,
Untuk mengendalikan komudi pinisi Nusantara dalam menghadapi gelombang ombak
dan badai bajak laut (one piece). Hal ini sekaitan dengan carut marutnya
penyelenggaraan pemerintahan pasca-Reformasi 1998. Dimana dinamika politik di
Indonesia memperlihatkan kecenderungan pergeseran dalam pola hubungan antara
bangsa (state) dan masyarakat sipil (civil society), yang berdasarkan
kesepakatan politik atau kontrak kepentingan (politik transaksional). Ruang
publik yang dahulunya diharapkan menjadi arena diskursus rasional, kini kerap
diwarnai skeptisisme mendalam terhadap independensi penguasa dan penegak hukum,
yang cenderung tidak adil dan tidak bijak dalam sikap dan tindakan.
Ketegangan ini berawal
dari pemerintahan Mulyono, dengan diberlakukan sistem kontrak politik dalam
Koalisi parpol, dan pemisahan Agama dari politik (kebijakan publik). Yaitu
sebuah sistem yang mendeskripsikan bahwa etika moral, kejujuran, kapasitas
intelektual, adalah urusan pribadi dan bukan urusan politik atau negara. Paham
ini cenderung mengadopsi paham sekuler dan komunisme, yang memandang hasil
pembangunan dari sisi materi dan phisik sebagai ukuran kesejahteraan. Lalu
mengabaikan pundasi dan palsafah bangsa Indonesia, bahwa keberhasilan suatu
pembangunan ialah terpenuhinya keseimbangan antara pembangunan lahiriah dan
jasmani atau phisik dan rohani (materi dan spritual). Oleh karena itu konsep
sekuler dan komunisme yang mengutamakan kesejahteraan dari sisi materi, sangat
bertentangan dengan pandangan hidup bangsa yang berlandaskan Pancasila.
Carut marut yang dihadapi
oleh pemerintahan Indonesia saat ini, pada hakekatnya adalah buah dari
diabaikannya nilai-nilai moral, Agama, dan etika publik dalam sistem politik
dan pemerintahan di era Mulyono selama sepuluh tahun berkuasa. Bahwa
keberpihakan rakyat kepada pemerintahnya tidak diukur dari aspek kepatuhan dan
loyalitas buta, atau dipaksa loyal dengan pendekatan materi dan bansos.
Melainkan kepercayaan publik yang terbangun dari aspek kejujuran dan keikhlasan
(integritas) seorang pemimpin, dalam menjalankan kekuasaan berdasarkan hukum
dan undang-undang. Bukan berdasarkan atas kekuasaan mutlak (absolut).
Untuk itu bangsa
Indonesia membutuhkan pemimpin paripurna, adalah sosok pemimpin yang ideal,
lengkap, dan utuh dari segi kualitas diri, kecerdasan, integritas, serta
kemampuan manajerial. Mereka tidak hanya mempunyai visi yang jelas, tetapi juga
mampu menggerakkan organisasi secara menyeluruh dan memberikan teladan yang
paripurna.
Ciri-Ciri Pemimpin
Paripurna, meliputi: (1). Memiliki Visi Jelas: Punya arah pandang jangka pendek
dan panjang yang kuat serta inspiratif. (2). Kualitas Intrapersonal &
Interpersonal: Punya kematangan emosi yang baik dan pintar berkomunikasi dengan
orang lain. (3). Kecerdasan & Integritas Menonjol: Cerdas mengatasi
masalah, jujur, serta dapat dipercaya. (4). Memiliki Wawasan Luas: Paham
kondisi nyata di masyarakat dan berpandangan luas atau global.
Dari Mana Sumber Kejujuran
Sumber utama kejujuran
berasal dari hati nurani yang bersih, keimanan atau ketakwaan kepada Tuhan,
serta didikan moral dan lingkungan yang baik sejak kecil. Hati yang tenang dan
sadar akan kebenaran menjadi akar utama seseorang berani berkata serta
bertindak apa adanya.
Faktor Internal:
(1). Hati nurani: Suara batin yang murni selalu bisa membedakan mana hal yang
benar dan salah. (2). Iman dan takwa: Keyakinan kuat kepada Tuhan membuat
seseorang selalu merasa diawasi dan takut untuk berbohong. (3). Kesadaran diri:
Niat kuat dari dalam diri untuk hidup tenang tanpa beban tipu daya.
Faktor Eksternal:
(1). Keluarga: Orang tua yang mendidik anak berkata benar sejak dini membentuk
kebiasaan jujur. (2). Lingkungan: Pergaulan dengan orang-orang yang baik dan
suka pada kebenaran. (3). Pendidikan: jenjang pendidikan yang jelas dan norma
masyarakat yang menghargai nilai integritas.
Sekaranglah saatnya masyarakat nusantara, untuk menggolarakan pemimpin paripurna, yaitu pemimpin yang berkarakter jujur, cerdas, dan berani tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras dan golongan. Karena karakter itu adalah nilai-nilai universal yang diajarkan oleh semua agama, sebelum kecurangan dan kebohongan menjadi charater building dalam transaksi politik.
Makassar, 11 Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar