Publik merasa curiga kalau hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sekarang, sama dengan hasil survey Pilpres lalu yang merupakan "stratehgi politik pembentukan opini publik" Yang pada hakekatnya dapat diduga penipuan publik dan strategi kotor yang menempatkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di atas ambang batas.
-----
Senin, 3 Agustus 2026
Politik Pembentukan Opini Jatuhkan Prabowo Naikkan PSI
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik & Pendidikan)
Siapakah Capres PSI yang ingin di sosialisasikan?
Dikutip dari --
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and
Consulting (SMRC) yang menempatkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di atas
ambang batas parlemen menjadi perhatian sejumlah pengamat politik.
Pengamat Ekonomi dan Politik,
Heru Subagia, menyebut bahwa capaian elektabilitas PSI yang berada di atas
ambang batas parlemen bukan terjadi secara kebetulan.
Ditekankan Heru, capaian
tersebut tidak bisa dilepaskan dari kerja-kerja politik yang dilakukan Presiden
ke-7 RI Jokowi, termasuk aktivitas politiknya di berbagai daerah.
"PSI yang berhasil
menembus angka di atas ambang batas parlemen ini menunjukkan kerja-kerja
politik terutama yang dilakukan Jokowi, safari di Lampung dan juga empat hari
kedepan di NTT," ujar Heru kepada fajar.co.id, Minggu (2/8/2026).
Ia menyebut rangkaian
aktivitas politik tersebut menjadi bagian dari strategi yang dianggap
berpengaruh terhadap peningkatan elektabilitas PSI.
Sedangkan korelasi dengan
Turunnya Approval Rating Prabowo dalam analisanya, Heru melihat adanya hubungan
antara menurunnya tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo Subianto dengan meningkatnya
elektabilitas PSI.
"Terutama secara
simultan PSI berhasil membranding ideologi, visi misi, dan tentunya
stakeholder. Salah satu stakeholdernya ini adalah Jokowi," tukasnya.
Publik merasa curiga
kalau hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sekarang, sama
dengan hasil survey Pilpres lalu yang merupakan"stratehgi politik
pembentukan opini publik" Yang pada hakekatnya dapat diduga penipuan
publik dan strategi kotor yang menempatkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
di atas ambang batas.
Hal ini menunjukkan
adanya rencana terselubung dan sistemik, untuk mendudukkan Capres dukungan PSI
pada Pilpres 2029 nanti. Jikan ini adalah rencana oligarki, maka
lembaga-lembaga Survey akan ditugaskan untuk membentuk dan menggiring opini
publik tersebut seperti Pilpres 2024. Sebab Saiful Mujani Research and
Consulting (SMRC) ikut menggiring opini publik pada sosialisasi salah satu kandidat
Capres 2024 lalu, yang pada hakekatnya adalah hasil kompromi politik atau
kontrak politik (politik transaksiinal).
Politik transaksional
adalah pengaturan atau kerja sama politik yang didasarkan pada prinsip
tawar-menawar demi keuntungan material atau kekuasaan, seperti politik uang,
bagi-bagi jabatan, dan dukungan bersyarat. Praktik ini mengabaikan asas
kejujuran dan meritokrasi dalam pemerintahan, dengan memaksakan kandidat
tertentu, dengan menghalalkan segala cara
Politik penggiringan
opini adalah rekayasa politik secara terencana dan sistemik untuk membentuk,
mengarahkan, atau mengendalikan pandangan dan pikiran masyarakat. Praktik ini
memakai buzzer media sosial, berita satu arah, dan hasil survei bayaran agar
publik percaya pada satu sisi politik tertentu.
Cara Kerja Buzzer dan
Influencer: (1). Akun bayaran atau tokoh terkenal dipakai untuk terus-menerus
menyebar pesan yang sama di media sosial. (2). Pembingkaian Berita (Framing):
Berita disusun dengan cara pilih-pilih fakta agar satu tokoh terlihat sangat
baik atau sangat buruk. (3). Survei Pesanan: Angka survei digunakan untuk
memberi kesan bahwa calon tertentu pasti menang agar rakyat ikut mendukung.
(4). Pecah Belah Kelompok: Masyarakat terbagi dan saling benci karena beda
pandangan. (5). Hilangnya Nalar Kritis: Orang-orang berhenti berpikir jernih
dan hanya ikut-ikutan suara yang paling keras di internet.
Akibatnya berdampak
dimana masyarakat kebingungan dalam menerima informasi, sebab publik susah
membedakan mana fakta asli dan mana rekayasa politik.
Oleh sebab itu, penulis
sangat berharap agar masyarakat lebih cerdas membaca kondisi politik dan hati-hati dengan strategi penggiringan
Issu guna membentuk opini publik didalam masyarakat yang dominan masih buta dan
bodoh politik.
Makassar, 3 Juli 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar