Gempa politik telah terjadi di Kabinet Merah Putih! Presiden Prabowo resmi mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dan melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru.
-----
Selasa, 15 September 2026
Diduga Berani Kritik Proyek IKN & Whoosh Purbaya
Disingkirkan
Oleh: Achmad Ramli
Karim
(Pemerhati Politik &
Pendidikan)
Gempa politik telah
terjadi di Kabinet Merah Putih! Presiden Prabowo resmi mencopot Purbaya Yudhi
Sadewa dan melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru.
Publik langsung berebut
berspekulasi: benarkah Purbaya ditendang akibat terlalu berani membongkar borok
internal Bea Cukai dan mengkritisi utang mega proyek?. Termasuk berani
mengkritik 40 perusahaan China yang tak bayar pajak, dengan tenaga kerja semua
dari china didepan anggota DPD RI, akhirnya Purbaya ditelpon dari istana.
Kolom komentar pun
langsung panas, mulai dari sindiran tajam netizen soal "era
kegelapan" hingga dugaan bahwa sang mantan menteri justru "diselamatkan
dari makan hati."
Misi Purbaya Membersihkan Birokrasi Bukan Melawan
Kekuasaan
Dalam era pemerintahan
yang sedang dikendalikan oleh sistem bisnis globalisasi sekarang ini, sangat
dibutuhkan tokoh yang berani melahirkan gagasan reformasi birokrasi. Gagasan
atau hakikat dari reformasi birokrasi, yang secara esensial bertujuan untuk
membersihkan, memperbaiki, dan menata ulang sistem administrasi
pemerintahan—bukan untuk menggulingkan atau melawan kekuasaan politik yang sah.
Dalam konteks
ketatanegaraan dan administrasi publik, konsep ini sering dijabarkan sebagai
berikut:
(a). Misi Pembersihan,
Bukan Perlawanan: Reformasi birokrasi berfokus pada pembenahan tata kelola
internal (seperti memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme), meningkatkan
kualitas pelayanan publik, serta menata sumber daya manusia aparatur. Targetnya
adalah sistem dan kultur kerja yang korup, bukan meruntuhkan rezim atau
otoritas politik di atasnya.
(b). Prinsip Netralitas
Birokrasi: Mengikuti teori sosiolog Max Weber, birokrasi idealnya bersifat
netral dan berfungsi sebagai mesin pelaksana kebijakan negara yang objektif.
Birokrasi bertugas melayani masyarakat dengan adil, sehingga gerakannya untuk
"bersih-bersih" murni demi efisiensi instrumen negara, bukan gerakan
politik untuk menantang penguasa.
Selama menjabat sebagai
Menteri Keuangan di kabinet Presiden Prabowo Subianto (September 2025 hingga September
2026), Purbaya Yudhi Sadewa mengusung sejumlah fokus dan misi utama di bidang
ekonomi: Pertumbuhan Ekonomi 6%: Memiliki target dan pekerjaan rumah besar
untuk memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai kisaran 6% pada
tahun 2026.
Menggerakkan Sektor Riil:
Memastikan sektor non-pemerintah dan dunia usaha bergerak serta bertumbuh
dengan baik di tengah tekanan global maupun domestik.
Mengoptimalkan Likuiditas
Perbankan: Sempat menjalankan kebijakan strategis seperti mendorong ekspansi kredit
ke sektor riil dan UMKM, serta menjaga pengawasan likuiditas bersama otoritas
terkait.
Kebijakan Industri yang
Akomodatif: Mendengarkan masukan pelaku industri—seperti keputusan untuk tidak
menaikkan tarif cukai rokok pada tahun 2026 demi menjaga stabilitas sektor
hasil tembakau.
Namun, masa tugas Purbaya
sebagai Menteri Keuangan harus berakhir lebih cepat ketika ia digantikan oleh
Suahasil Nazara melalui perombakan kabinet (reshuffle) pada 14 September 2026.
Dalam perjalanannya Membersihkan para politikus kotor dan tikus-tikus berdasi,
sejak menjabat sebagai Menteri Keuangan, tiba-tiba telpon berdering petanda ada
panggikan dari istana.
Peristiwa panggilan
telepon dari Istana yang memotong jalannya Rapat Kerja Gabungan bersama Komite
IV DPD RI pada Senin, 14 September 2026, menyisakan potret kontras mengenai
dinamika emosi dan perasaan Purbaya Yudhi Sadewa sebelum akhirnya resmi
digantikan.
suasana dan perkiraan dinamika perasaan
Purbaya dalam momen mendadak tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Fokus Penuh dan
Dedikasi di Ruang Sidang
Sebelum dering telepon
dari Istana menginterupsi, perasaan Purbaya dipenuhi oleh fokus, ketegangan
profesional, dan tanggung jawab besar. Sebagai Menteri Keuangan, ia sedang
berada di atas mimbar memaparkan isu-isu krusial fiskal negara, termasuk
kondisi perekonomian, surat utang pemerintah, hingga meluapkan kekesalannya
terhadap ketidakpatuhan pajak perusahaan asing. Pikiran dan energinya tercurah
sepenuhnya untuk mempertahankan argumen pemerintah di hadapan para anggota DPD
RI.
2. Kebingungan yang
Mendadak (Shock & Confusion)
Ketika Ketua Komite IV
DPD RI mendadak memotong pembicaraannya dan mengumumkan adanya telepon mendesak
dari Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), suasana hati Purbaya seketika
berubah. Berdasarkan rekaman visual di ruang rapat, ia sempat memperlihatkan
ekspresi bingung dan terkejut. Sebagai pejabat yang sedang memimpin jalannya rapat
formal, dipanggil oleh Istana secara tiba-tiba di tengah ribuan mata yang
menonton tentu menimbulkan tanda tanya besar yang mendadak di benaknya.
3. Sikap Santun dan
Kepatuhan yang Kontras (Resignation & Respect)
Saat melangkah ke luar
atau meraih ponselnya untuk menjawab panggilan dari sosok yang ia sapa
"Bapak", Purbaya menunjukkan sikap pasrah namun tetap sangat
menghormati otoritas tertinggi. Gestur tubuhnya yang terekam kamera beberapa
kali membungkuk saat berbicara di telepon memperlihatkan kepatuhan total
seorang pembantu presiden, meski di dalam hatinya mungkin sudah menyadari
sinyal adanya perombakan kabinet (reshuffle).
4. Refleksi Kelelahan dan
Keikhlasan
Meskipun proses
pencopotan sore itu terasa sangat mendadak dan dramatis, perasaan Purbaya
tampaknya diliputi rasa ikhlas. Jauh sebelum hari pencopotannya, tepat saat
merefleksikan satu tahun masa jabatannya pada awal September 2026, Purbaya
sempat mencurahkan isi hatinya bahwa mengelola keuangan negara adalah pekerjaan
yang "bikin pusing terus-terusan hampir setiap hari" karena banyaknya
persoalan yang harus dipikirkan.
Dengan demikian, saat
melangkah keluar dari Gedung DPD RI menuju Istana, perasaan Purbaya berada di
antara keterkejutan akibat momentum yang begitu tiba-tiba, sekaligus rasa lega
dan ikhlas setelah melepaskan beban berat APBN yang dipikulnya selama setahun
terakhir.
Ternyata Prabowo belum
lepas dari bayang-bayang geng Solo dan oligarki.
Makassar, 15 September
2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar