Translate

Rabu, 30 September 2026

KOKAM Harus Waspadai Kebangkitan New Komunis

 

Namu yang perlu diwaspadai KOKAM adalah kebangkitan komunisme gaya baru—baik secara historis maupun dalam diskursus geopolitik modern yang kemungkina muncul dalam beberapa bentuk gerakan dan manifesto politik tertentu.





-----

Kamis, 1 Oktober 2026



KOKAM Harus Waspadai Kebangkitan New Komunis

 

Oleh; Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik & Pendidikan)

 

KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) resmi didirikan pada tanggal 1 Oktober 1965 di tengah situasi politik yang genting akibat pergolakan Gerakan 30 September (G30S/PKI). Situasi Politik 1965 menjadi faktor utama yang melatarbelakangi kelahirannya, dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu semakin ofensif dan melakukan berbagai manuver politik yang mengancam keselamatan warga serta kedaulatan negara. Sehingga Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Jakarta Raya tergerak menginisiasi mengadakan kursus kader untuk meningkatkan mental dan daya juang. Sebagai tokoh pendiri KOKAM diprakarsai oleh H.S. Prodjokusumo (Letnan Kolonel S. Prodjokusumo) bersama Angkatan Muda Muhammadiyah. Selanjutnya Pimpinan Pusat Muhammadiyah di bawah kepemimpinan K.H.A. Badawi mengesahkan berdirinya KOKAM sebagai kesatuan komando untuk melawan ancaman PKI bersama unsur TNI/ABRI.

Pada awalnya, KOKAM dibentuk sebagai dukungan fisik untuk melindungi keselamatan pimpinan, keluarga besar Muhammadiyah, serta menjaga keutuhan NKRI. Kemudia terjadi tansformasi peran dan fungsi seiring berjalannya waktu, peran KOKAM bergeser menjadi garda terdepan dalam aksi kemanusiaan, penanggulangan bencana, hingga pengawalan kegiatan sosial umat.

Berdirinya KOKAM disahkan oleh K.H.A. Badawi selaku Ketua PP Muhammadiyah. Instruksi pertama dari Ketua PP Muhammadiyah adalah “Mensirnakan Gerakan 30 September". Sejarah mencatat, Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) lahir sebagai jawaban atas keprihatinan segenap kader persyarikatan Muhammadiyah pada kondisi politik nasional masa itu. Tepat jam 21.30 tanggal 01 Oktober 1965 diproklamirkan berdirinya KOKAM. Kemudian Pak Prodjokusumo selaku Komandan KOKAM mengeluarkan instruksi sebagai berikut:

Salah satu inisiatif Pemuda Muhammadiyah pada masa itu adalah mengadakan kursus kader yang dinamakan Kader Takari, bertujuan untuk meningkatkan daya juang kader Muhammadiyah dalam menghadapi berbagai kemungkinan. Kursus ini dibuka pada 1 September 1965 di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan diikuti oleh 250 peserta.

Pada malam 30 September 1965, Jenderal Polisi Sutjipto Judodiharjo memberikan ceramah di kursus tersebut hingga pukul 21.20, diikuti oleh Jenderal Abdul Haris Nasution yang berani menentang konsep Angkatan ke-5, yaitu barisan rakyat yang dipersenjatai. Malam itu, Jenderal Nasution meninggalkan lokasi kursus pada pukul 23.30.

Keesokan harinya, pada 01 Oktober 1965, Gerakan 30 September (G30S) mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi dan mendemisionerkan Kabinet Dwikora. Peserta kursus yang tetap hadir di Universitas Muhammadiyah Jakarta mendengarkan pengumuman panitia yang menyatakan situasi darurat.

Sebuah sidang darurat dipimpin oleh Letnan Kolonel S. Prodjokusumo memutuskan untuk membentuk Komando Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Muhammadiyah, yang kemudian dikenal sebagai KOKAM, dengan Letnan Kolonel S. Prodjokusumo sebagai komandannya.

KOKAM secara resmi diproklamirkan pada 1 Oktober 1965 pukul 21.30. Instruksi pertama dari Komandan KOKAM adalah membentuk KOKAM di setiap cabang Muhammadiyah, menjaga keselamatan keluarga Muhammadiyah, dan bekerja sama dengan kekuatan yang menentang G30S. Pada 2 Oktober 1965, informasi semakin jelas tentang situasi di tanah air, di mana beberapa Jenderal Angkatan Darat telah diculik dan dibunuh oleh G30S/PKI.

PERWIS (Perwakilan Istimewa) PP Muhammadiyah di Jakarta pada 2 Oktober 1965 mengeluarkan pernyataan mengutuk keras Gerakan 30 September dan Dewan Revolusi. Setelah keputusan tersebut, KOKAM bangkit sebagai satu kesatuan untuk menentang PKI bersama dengan unsur ABRI.

Tokoh sentral di balik berdirinya KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) yang memiliki nama unsur "Kusuma" adalah Haji Soedarsono Prodjokusumo (sering dikenal sebagai H.S. Prodjokusumo atau Pak Prodjo).

H.S. Prodjokusumo merupakan pencetus utama sekaligus komandan pertama yang mendirikan organisasi semi-militer ini tepat pada 1 Oktober 1965.

Berikut adalah peran penting H.S. Prodjokusumo dalam pendirian KOKAM:

1. Inisiator Pembentukan KOKAM

Pada akhir September dan awal Oktober 1965, Indonesia berada dalam situasi politik yang sangat genting akibat peristiwa G30S/PKI. Melihat ancaman ideologi komunisme terhadap negara dan umat Islam, Pak Prodjo yang saat itu menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Raya mengusulkan pembentukan wadah kesiapsiagaan bagi para pemuda. Wadah ini resmi dibentuk pada 1 Oktober 1965 malam hari di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

2. Komandan Pertama

Setelah organisasi disepakati berdiri, Pak Prodjo langsung ditunjuk dan diangkat menjadi Komandan KOKAM pertama. Ia memimpin konsolidasi awal pasukan dan memimpin Apel KOKAM perdana pada Januari 1966 yang dihadiri oleh sekitar 2.500 personel.

3. Memanfaatkan Latar Belakang Militer

H.S. Prodjokusumo adalah seorang perwira militer Indonesia (TNI AD dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel/Kolonel purnawirawan). Latar belakang militernya sangat krusial dalam menyusun struktur, memberikan pelatihan disiplin, serta menjalin koordinasi strategis dengan aparat keamanan negara (seperti ABRI/RPKAD kala itu) untuk mengamankan NKRI dan warga Muhammadiyah.

(Catatan: Selain nama tokoh pendiri tersebut, kata "Kusuma" juga digunakan sebagai nama satuan wilayah (nama brevet/kesatuan) KOKAM di beberapa daerah, contohnya KOKAM Surya Kusuma di Banyumas dan KOKAM Wijaya Kusuma di Cilacap).

 

Waspadai Kebangkitan New Komunis Dalam Diskursus Geopolitik

Strategi utama pendekatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di bawah pimpinan D.N. Aidit pada awal 1950-an hingga menjadi salah satu partai terbesar di Indonesia adalah fokus menggarap massa di akar rumput perdesaan serta pendekatan sosial-ekonomi yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat kecil.

Adapun strategi pendekatan jitu yang dilakukan PKI pada masa lalu:

a. Menggarap Basis Akar Rumput (Desa, Petani, dan Buruh).

b. Aksi Sosial dan Pelayanan Nyata di Masyarakat, seperti: Bansos dan pelayanan sosial launnya.

c. Membentuk Organisasi Massal (Sayap Partai) pemuda.

d. Strategi Politik "Jalan Damai" dan Metode Kombinasi.

Namu yang perlu diwaspadai KOKAM adalah kebangkitan komunisme gaya baru—baik secara historis maupun dalam diskursus geopolitik modern yang kemungkina muncul dalam beberapa bentuk gerakan dan manifesto politik tertentu. Secara umum, kebangkitan ideologi atau kekuatan yang berhaluan komunis dapat diidentifikasi melalui bentuk-bentuk berikut:

1. Bentuk Gerakan Politik dan Pemerintahan (Formal)

• Negara Satu Partai: Manifestasi paling jelas adalah bertahannya atau menguatnya kekuasaan partai komunis di negara-negara yang secara resmi masih menganut sistem tersebut, seperti Tiongkok (PKT), Kuba, Vietnam, Laos, dan Korea Utara.

• Konsolidasi Ekonomi-Politik: Kebangkitan dalam konteks modern sering kali tidak berupa revolusi bersenjata, melainkan penguatan pengaruh ekonomi dan geopolitik global oleh negara komunis (seperti pengaruh global Tiongkok melalui inisiatif ekonomi).

2. Bentuk Gerakan Sosial dan Akar Rumput (Informal)

• Gerakan Kiri Baru (New Left): Kebangkitan ide-ide neo-marxisme yang berfokus pada isu-isu ketimpangan kelas, kritik terhadap kapitalisme global, hak-hak buruh, dan keadilan sosial di berbagai negara demokratis.

• Partai Politik Sayap Kiri: Munculnya kembali atau menguatnya suara partai-partai sosialis radikal atau komunis dalam pemilu di beberapa negara Eropa atau Amerika Latin yang memanfaatkan isu krisis ekonomi.

3. Bentuk Propaganda dan Wacana Pemikiran

• Literatur dan Media Digital: Penyebaran pemikiran Karl Marx, Lenin, atau tokoh kiri lainnya melalui platform digital, diskusi akademis, dan media sosial untuk menarik minat generasi muda yang kecewa dengan sistem ekonomi pasar bebas.

• Sentimen Populis: Memanfaatkan sentimen anti-oligarki dan ketimpangan distribusi kekayaan sebagai bahan bakar untuk menarik simpati massa.

Catatan Penting untuk Konteks di Indonesia 🇮🇩

Di Indonesia, isu mengenai "kebangkitan komunisme" sering kali menjadi topik sensitif yang muncul dalam perdebatan politik dan sosial.

• Hukum Formal: Berdasarkan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 dan UU No. 27 Tahun 1999, Partai Komunis Indonesia (PKI) berstatus dilarang, serta penyebaran ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme adalah hal yang ilegal.

• Sudut Pandang Sosial: Narasi kebangkitan komunis di Indonesia sering kali muncul dalam bentuk kekhawatiran masyarakat terhadap simbol-simbol tertentu, diskusi sejarah, atau digunakan sebagai komoditas politik untuk menggalang opini publik, meskipun secara kelembagaan partainya sudah tidak ada.

 

Makassar, 1 Oktober 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar