Namu yang perlu diwaspadai KOKAM adalah kebangkitan komunisme gaya baru—baik secara historis maupun dalam diskursus geopolitik modern yang kemungkina muncul dalam beberapa bentuk gerakan dan manifesto politik tertentu.
-----
Kamis, 1 Oktober 2026
KOKAM Harus Waspadai Kebangkitan New Komunis
Oleh; Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda
Muhammadiyah) resmi didirikan pada tanggal 1 Oktober 1965 di tengah situasi
politik yang genting akibat pergolakan Gerakan 30 September (G30S/PKI). Situasi
Politik 1965 menjadi faktor utama yang melatarbelakangi kelahirannya, dimana
Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu semakin ofensif dan melakukan berbagai
manuver politik yang mengancam keselamatan warga serta kedaulatan negara.
Sehingga Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Jakarta Raya tergerak menginisiasi
mengadakan kursus kader untuk meningkatkan mental dan daya juang. Sebagai tokoh
pendiri KOKAM diprakarsai oleh H.S. Prodjokusumo (Letnan Kolonel S.
Prodjokusumo) bersama Angkatan Muda Muhammadiyah. Selanjutnya Pimpinan Pusat
Muhammadiyah di bawah kepemimpinan K.H.A. Badawi mengesahkan berdirinya KOKAM
sebagai kesatuan komando untuk melawan ancaman PKI bersama unsur TNI/ABRI.
Pada awalnya, KOKAM dibentuk sebagai dukungan fisik
untuk melindungi keselamatan pimpinan, keluarga besar Muhammadiyah, serta
menjaga keutuhan NKRI. Kemudia terjadi tansformasi peran dan fungsi seiring
berjalannya waktu, peran KOKAM bergeser menjadi garda terdepan dalam aksi
kemanusiaan, penanggulangan bencana, hingga pengawalan kegiatan sosial umat.
Berdirinya KOKAM disahkan oleh K.H.A. Badawi selaku
Ketua PP Muhammadiyah. Instruksi pertama dari Ketua PP Muhammadiyah adalah
“Mensirnakan Gerakan 30 September". Sejarah mencatat, Komando
Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) lahir sebagai jawaban atas
keprihatinan segenap kader persyarikatan Muhammadiyah pada kondisi politik
nasional masa itu. Tepat jam 21.30 tanggal 01 Oktober 1965 diproklamirkan
berdirinya KOKAM. Kemudian Pak Prodjokusumo selaku Komandan KOKAM mengeluarkan
instruksi sebagai berikut:
Salah satu inisiatif Pemuda Muhammadiyah pada masa itu
adalah mengadakan kursus kader yang dinamakan Kader Takari, bertujuan untuk
meningkatkan daya juang kader Muhammadiyah dalam menghadapi berbagai
kemungkinan. Kursus ini dibuka pada 1 September 1965 di Universitas
Muhammadiyah Jakarta dan diikuti oleh 250 peserta.
Pada malam 30 September 1965, Jenderal Polisi Sutjipto
Judodiharjo memberikan ceramah di kursus tersebut hingga pukul 21.20, diikuti
oleh Jenderal Abdul Haris Nasution yang berani menentang konsep Angkatan ke-5,
yaitu barisan rakyat yang dipersenjatai. Malam itu, Jenderal Nasution
meninggalkan lokasi kursus pada pukul 23.30.
Keesokan harinya, pada 01 Oktober 1965, Gerakan 30
September (G30S) mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi dan mendemisionerkan
Kabinet Dwikora. Peserta kursus yang tetap hadir di Universitas Muhammadiyah
Jakarta mendengarkan pengumuman panitia yang menyatakan situasi darurat.
Sebuah sidang darurat dipimpin oleh Letnan Kolonel S.
Prodjokusumo memutuskan untuk membentuk Komando Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Muhammadiyah,
yang kemudian dikenal sebagai KOKAM, dengan Letnan Kolonel S. Prodjokusumo
sebagai komandannya.
KOKAM secara resmi diproklamirkan pada 1 Oktober 1965
pukul 21.30. Instruksi pertama dari Komandan KOKAM adalah membentuk KOKAM di
setiap cabang Muhammadiyah, menjaga keselamatan keluarga Muhammadiyah, dan
bekerja sama dengan kekuatan yang menentang G30S. Pada 2 Oktober 1965,
informasi semakin jelas tentang situasi di tanah air, di mana beberapa Jenderal
Angkatan Darat telah diculik dan dibunuh oleh G30S/PKI.
PERWIS (Perwakilan Istimewa) PP Muhammadiyah di
Jakarta pada 2 Oktober 1965 mengeluarkan pernyataan mengutuk keras Gerakan 30
September dan Dewan Revolusi. Setelah keputusan tersebut, KOKAM bangkit sebagai
satu kesatuan untuk menentang PKI bersama dengan unsur ABRI.
Tokoh sentral di balik berdirinya KOKAM (Komando
Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) yang memiliki nama unsur
"Kusuma" adalah Haji Soedarsono Prodjokusumo (sering dikenal sebagai
H.S. Prodjokusumo atau Pak Prodjo).
H.S. Prodjokusumo merupakan pencetus utama sekaligus
komandan pertama yang mendirikan organisasi semi-militer ini tepat pada 1
Oktober 1965.
Berikut adalah peran penting H.S. Prodjokusumo dalam
pendirian KOKAM:
1. Inisiator Pembentukan KOKAM
Pada akhir September dan awal Oktober 1965, Indonesia
berada dalam situasi politik yang sangat genting akibat peristiwa G30S/PKI.
Melihat ancaman ideologi komunisme terhadap negara dan umat Islam, Pak Prodjo
yang saat itu menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Raya
mengusulkan pembentukan wadah kesiapsiagaan bagi para pemuda. Wadah ini resmi
dibentuk pada 1 Oktober 1965 malam hari di Universitas Muhammadiyah Jakarta.
2. Komandan Pertama
Setelah organisasi disepakati berdiri, Pak Prodjo
langsung ditunjuk dan diangkat menjadi Komandan KOKAM pertama. Ia memimpin
konsolidasi awal pasukan dan memimpin Apel KOKAM perdana pada Januari 1966 yang
dihadiri oleh sekitar 2.500 personel.
3. Memanfaatkan Latar Belakang Militer
H.S. Prodjokusumo adalah seorang perwira militer
Indonesia (TNI AD dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel/Kolonel purnawirawan).
Latar belakang militernya sangat krusial dalam menyusun struktur, memberikan
pelatihan disiplin, serta menjalin koordinasi strategis dengan aparat keamanan
negara (seperti ABRI/RPKAD kala itu) untuk mengamankan NKRI dan warga
Muhammadiyah.
(Catatan: Selain nama tokoh pendiri tersebut, kata
"Kusuma" juga digunakan sebagai nama satuan wilayah (nama
brevet/kesatuan) KOKAM di beberapa daerah, contohnya KOKAM Surya Kusuma di
Banyumas dan KOKAM Wijaya Kusuma di Cilacap).
Waspadai Kebangkitan New Komunis Dalam Diskursus Geopolitik
Strategi utama pendekatan Partai Komunis Indonesia
(PKI) di bawah pimpinan D.N. Aidit pada awal 1950-an hingga menjadi salah satu
partai terbesar di Indonesia adalah fokus menggarap massa di akar rumput
perdesaan serta pendekatan sosial-ekonomi yang menyentuh langsung kebutuhan
rakyat kecil.
Adapun strategi pendekatan jitu yang dilakukan PKI
pada masa lalu:
a.
Menggarap Basis Akar Rumput (Desa, Petani, dan Buruh).
b.
Aksi Sosial dan Pelayanan Nyata di Masyarakat, seperti: Bansos dan pelayanan
sosial launnya.
c.
Membentuk Organisasi Massal (Sayap Partai) pemuda.
d. Strategi Politik "Jalan Damai" dan Metode Kombinasi.
Namu yang perlu diwaspadai KOKAM adalah kebangkitan
komunisme gaya baru—baik secara historis maupun dalam diskursus geopolitik
modern yang kemungkina muncul dalam beberapa bentuk gerakan dan manifesto
politik tertentu. Secara umum, kebangkitan ideologi atau kekuatan yang
berhaluan komunis dapat diidentifikasi melalui bentuk-bentuk berikut:
1. Bentuk Gerakan Politik dan Pemerintahan (Formal)
• Negara Satu Partai: Manifestasi paling jelas adalah
bertahannya atau menguatnya kekuasaan partai komunis di negara-negara yang
secara resmi masih menganut sistem tersebut, seperti Tiongkok (PKT), Kuba,
Vietnam, Laos, dan Korea Utara.
• Konsolidasi Ekonomi-Politik: Kebangkitan dalam
konteks modern sering kali tidak berupa revolusi bersenjata, melainkan
penguatan pengaruh ekonomi dan geopolitik global oleh negara komunis (seperti
pengaruh global Tiongkok melalui inisiatif ekonomi).
2. Bentuk Gerakan Sosial dan Akar Rumput (Informal)
• Gerakan Kiri Baru (New Left): Kebangkitan ide-ide
neo-marxisme yang berfokus pada isu-isu ketimpangan kelas, kritik terhadap
kapitalisme global, hak-hak buruh, dan keadilan sosial di berbagai negara
demokratis.
• Partai Politik Sayap Kiri: Munculnya kembali atau
menguatnya suara partai-partai sosialis radikal atau komunis dalam pemilu di
beberapa negara Eropa atau Amerika Latin yang memanfaatkan isu krisis ekonomi.
3. Bentuk Propaganda dan Wacana Pemikiran
• Literatur dan Media Digital: Penyebaran pemikiran
Karl Marx, Lenin, atau tokoh kiri lainnya melalui platform digital, diskusi
akademis, dan media sosial untuk menarik minat generasi muda yang kecewa dengan
sistem ekonomi pasar bebas.
• Sentimen Populis: Memanfaatkan sentimen
anti-oligarki dan ketimpangan distribusi kekayaan sebagai bahan bakar untuk
menarik simpati massa.
Catatan Penting untuk Konteks di Indonesia 🇮🇩
Di Indonesia, isu mengenai "kebangkitan
komunisme" sering kali menjadi topik sensitif yang muncul dalam perdebatan
politik dan sosial.
• Hukum Formal: Berdasarkan TAP MPRS Nomor
XXV/MPRS/1966 dan UU No. 27 Tahun 1999, Partai Komunis Indonesia (PKI)
berstatus dilarang, serta penyebaran ajaran Komunisme, Marxisme, dan Leninisme
adalah hal yang ilegal.
• Sudut Pandang Sosial: Narasi kebangkitan komunis di
Indonesia sering kali muncul dalam bentuk kekhawatiran masyarakat terhadap
simbol-simbol tertentu, diskusi sejarah, atau digunakan sebagai komoditas
politik untuk menggalang opini publik, meskipun secara kelembagaan partainya
sudah tidak ada.
Makassar, 1 Oktober 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar