Secara singkat, figur dan tokoh Purbaya adalah "magnet suara bagi Prabowo" yang sangat efektif, karena keberanian dan keberhasilannya mengungkap jaringan dan lorong-lorong tikus berdasi (koruptor), adalah strategi komunikasi politik dan melahirkan simpatik langsung dengan pemilih di akar rumput.
-----
Kamis, 17 September 2026
Pertaruhan Elektabilitas Prabowo Dan Pertahankan
Kedaulatan Ekonomi
Oleh: Achmad Ramli Karim
(Pemerhati
Politik & Pendidikan)
Elektabilitas adalah tingkat keterpilihan seseorang,
tokoh, atau partai politik oleh masyarakat dalam suatu pemilihan umum (pemilu).
Elektabilitas menunjukkan seberapa besar niat atau peluang publik untuk
benar-benar mencoblos seorang kandidat jika pemilu diadakan saat itu. Angka ini
biasanya didapatkan melalui jajak pendapat atau survei opini publik yang dilakukan
oleh lembaga penelitian.
Perbedaan dengan Istilah Lain dalam dunia politik,
elektabilitas sering disandingkan dengan dua istilah penting lainnya, yaitu:
Popularitas (tingkat kepopuleran): Seberapa dikenal nama dan wajah seseorang
oleh publik. Orang yang sering tampil di media atau artis biasanya sangat
populer, tetapi belum tentu memiliki elektabilitas tinggi karena belum tentu
disukai atau dipercaya untuk memimpin. Dan akseptabilitas (tingkat penerimaan):
Seberapa besar masyarakat bisa menerima kehadiran seorang tokoh sebagai
pemimpin yang baik dan berintegritas, terlepas dari apakah mereka sudah berniat
memilihnya atau belum. Hubungan ketiganya berdasarkan alur dukungan, biasanya
berjalan dari: Dikenal (popularitas) → Diterima (Akseptabilitas) → Dipilih
(Elektabilitas).
Dimana ketiga faktor tersebut dimiliki oleh sosok
Purbaya Yudhi Sadewa, dan hal itu sangat menguntungkan bagi Presiden Prabowo,
karena akan berpengaruh dalam mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya. Purbaya
Yudhi Sadewa sempat mencatatkan elektabilitas yang cukup diperhitungkan di
bursa tokoh publik dan calon pemimpin nasional selama menjabat sebagai Menteri
Keuangan (September 2025–September 2026).
Pengaruh figur dan tokoh (atau yang sering disebut
sebagai effet ekor jas atau coattail effect) punya peran yang sangat kuat dalam
dunia politik untuk mendongkrak elektabilitas, baik untuk partai politik maupun
kandidat lain yang didukungnya.
Secara singkat, figur dan tokoh Purbaya adalah "magnet suara bagi Prabowo" yang
sangat efektif, karena keberanian dan keberhasilannya mengungkap jaringan dan
lorong-lorong tikus berdasi (koruptor), adalah strategi komunikasi politik dan
melahirkan simpatik langsung dengan pemilih di akar rumput.
Namun dengan pencopotan Purbaya dari kabiner merah
putih, otomatis berdampak pada turunnya ekektabitas Prabowo Subianto dimata
publik. Dimana masyarakat luas sangat kagum pada keberanian dan kejujuran sosok
Purbaya, yang dianggap sebagai pejuang yang tak kenal lelah demi rakyat. Karena
Purbaya tidak termasuk geng Solo dan bukan sosok yang takut dengan ancaman
oligarki.
Namun bagi penulis langkah Presiden Prabowo mencopot
Mengkeu Purbaya Yudhi Sadewa, adalah strategi jitu dan berani demi menegakkan
dan mempertahankan kedaulatan ekonomi bangsa ia rela kehilangan seorang
kekuatannya dikabinet.
Kita tak bisa membayangkan suasana kebathinan yang
dialami sang menteri saat itu, dan jika itu adalah pemberitahuan pencopotannya
sebagai menteri maka menurut hemat saya Purbaya Yudi Sadewa adalah sosok yang
sangat kuat karena beliau bisa tegar berdiri dimana banyak orang mungkin tak
bisa tegar dalam suasana seperti itu. Purbaya adalah menteri Koboy mendapat
validasi.
Kalau benar sebagaimana berita yang beredar dalam
berbagai platform media sosial bahwa keputusan pencopotan sang koboy dilakukan
ketika rapat belum selesai, publik wajar bertanya: apakah seorang menteri tidak
lagi layak mendapatkan kehormatan untuk mengetahui nasib jabatannya melalui
mekanisme yang pantas, karena tanpa pelanggaran etik jabatan atau pelanggaran
disiplin berat?.
Pencopotan Purbaya Yudi Sadewa menjadi sorotan karena
di waktu yang hampir bersamaan, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara telah
dipersiapkan untuk menggantikannya. Situasi tersebut memunculkan kesan bahwa
pergantian berlangsung tanpa persiapan yang cukup dari Purbaya.
Ekonom Bhima Yudhistira Adhinegara menilai persoalan
tersebut berkaitan dengan konflik internal di Kementerian Keuangan. Salah
satunya adalah penolakan Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai terhadap kebijakan
rotasi pejabat eselon II yang dilakukan Purbaya. Bhima juga menyoroti cara
pencopotan tersebut yang berlangsung terbuka. Menurutnya, proses itu dapat
memberikan kesan mempermalukan Purbaya, yang selama ini dianggap loyal kepada
Presiden Prabowo Subianto.
Bukan hoax Tribun, tapi memang terjadi di rapat
terakhirnya. Ini kronologinya sesuai video sidang DPD RI Komite IV, Senin 14
September 2026 pagi (hanya beberapa jam sebelum beliau dicopot): Pak Purbaya
Yudhi Sadewa sedang rapat gabungan dengan DPD, Bappenas, dan Bank Indonesia
membahas RUU APBN 2027. Di tengah paparannya, beliau meledak kesal.
Penyebab
beliau pukul meja:
(Dikutif dari media social, tanpa nama penulis) :
1). Ada perusahaan asing (disebut pengusahanya dari
China, tapi operasi di Indonesia) yang main curang. Mereka jualan baja dan
produk lain secara cash basis - jual langsung cash ke klien biar tidak
terdeteksi sistem pajak.
2). Tidak bayar PPN. Potensi kerugian negara dari 1
perusahaan saja bisa Rp4 Triliun per tahun, kata Pak Purbaya. Mereka jual tapi
tidak setor PPN.
3). Meremehkan & Menghina Aturan Indonesia. Ini
yang bikin beliau paling kesal. Kata Pak Purbaya, perusahaan itu
terang-terangan bilang: _"Tidak ada gunanya ikut peraturan di Indonesia,
semua bisa diselesaikan dengan bayar orang."_
Mereka menganggap hukum Indonesia bisa dibeli.
Makanya Pak Purbaya bilang: _"Saya merasa
dihina"_ dan gesturnya memukul meja sambil berkata: _"Saya akan
sikat. Tidak ada toleransi!"_
Dikutip dari tulisan: JUDUL: Meja Dipukul, Bukan Orang
- Ketika Seorang Menteri Tersinggung Demi Harga Diri Bangsa
Banyak orang lihat videonya lalu fokus ke "pukul
mejanya". Padahal yang lebih penting adalah kenapa beliau sampai harus
pukul meja.
Ini bukan soal emosi, ini soal harga diri.
1. Pajak adalah Harga Diri Bangsa.
Perusahaan asing itu datang ke Indonesia, pakai jalan
kita, pakai listrik kita, pakai pekerja kita, tapi saat disuruh bayar pajak
malah bilang "aturan Indonesia tidak berguna".
Kalau kita diam, kita yang rugi. Uang PPN Rp4 Triliun
itu bisa untuk bangun berapa ribu sekolah di Sumatera Barat? Bisa untuk berapa
beasiswa MABA seperti anak kita yang tergolong ekonomi menengah ke bawah? Pak
Purbaya marah bukan karena benci asing, tapi karena dia sayang negara.
2. Jangan Bangga Jika Lolos Pajak, Itu Bukan Pintar,
Itu Merugikan Tetangga.
Di sekitar kita juga banyak yang bangga "Saya
bisa akali pajak". Padahal perusahaan asing yang cash basis itu contoh
buruknya. Mereka kaya sendiri, tapi kas negara kosong. Akhirnya yang susah
siapa? Kita juga, karena subsidi dicabut, harga naik.
Edukasi untuk kita semua: Taat pajak bukan soal takut
petugas, tapi soal gotong royong.
3. Marah yang Benar, di Tempat yang Benar.
Pak Purbaya tidak maki-maki orangnya di medsos. Beliau
marah di forum resmi, di depan DPD, dengan data. Pukul meja sebagai simbol ketegasan,
bukan kekerasan.
Ini pelajaran untuk kita: Kalau merasa dihina, jangan
balas dengan hinaan di Instagram Story. Bawa ke forum yang benar, dengan data
dan solusi.
Hari itu beliau pukul meja untuk membela aturan
Indonesia. Sore harinya, jabatannya berakhir lewat satu telepon. Tapi
ketegasannya menolak perusahaan yang menghina Indonesia itu akan tetap diingat.
Karena jabatan bisa selesai dalam 1 telepon, tapi keberanian membela negara
tidak akan pernah hilang karena dicopot.
Nah ini... orang pintar pasti sudah bisa menebak apa
alasan sampai dia di copot, terlalu berani bela negara. Apakah ini salah satu
strategi Presiden Prabowo, agar tetap bisa menegakkan dan mempertahankan
kedaulatan ekonomi?.
Sebab penulis menduga ! Pencopotan Purbaya dari
Kabinet Merah Putih, adalah tekanan politik yang sangat keras kepada Presiden
yang tak mampu ia lawan, sebagai dampak dari kontrak politik dalam Koalisi. Dan
merupakan salah satu upaya melemahkan kedudukan Presiden Prabowo, sebelum
konstekrasi politik 2029 mendatang.
Kalau dicermati dan dipahami isi diskusi antara pakar
dan jurnalis senior bersama Bapak Presiden RI dalam acara "Presiden
Prabowo Menjawab", maka sangat terang menderang kalau para
pedagang/pebisnis menggunakan kaki
tangannya yang ada di legislatif, birokrasi pemerintahan, BUMN dan bea cukai
menyerang dan melemahkan kedudukan Prabowo Subianto.
Adakah campur tangan geng Solo bersama investor dalam
oligarki, yang terancam dengan kebijakan tegas Purbaya terkait perbankan,
perpajakan dan bea cukai yang merugikan para investor?.
Wallahu a'lam bishawab (وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ).
Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya".
Makassar, 17 September 2026
Purbaya adalah sosok panutan
BalasHapusSemoga sehat selalu dan Selamat karena sudah tidak jadi Mentri insha Allah itu yang terbaik